main cast :
Kim
Jong In
Jung
Soo Jung
other cast : ada ko
Seperti hari biasanya
sebelum masuk ke kelas Soo Jung selalu menghampiri bunga-bunga di taman
sekolahnya. Hari ini adalah awal musim panas.
“selamat pagi, kalian
merindukanku ? ah aku juga merindukan kalian. Ini adalah awal musim panas
kalian harus sering sering di sirami kalau tidak mau layu. Kalau begitu aku
akan menolong kalian eoh ?” Soo Jung menyiram tanaman sambil bersenandung.
“setiap pagi selalu bicara
dengan bunga, itulah sebabnya temanmu hanya jinri” Jong In menghampiri Soo Jung
“aish , sudah sana pergi
atau aku akan menyirammu”
“aku lapar Soo Jung-ah”
“terus ? apa masalahku?”
“ayo makan bersama” Jong
In menarik narik seragam Soo Jung
“tidak mau”
“ayo lah Soo Jung” Jong In
memasang wajah imutnya
“hentikan ! aku mual
melihatnya. Tunggu aku setelah menyiram bunga”
“yess!”
Seperti biasa Soo Jung dan Jong In selalu makan bersama,
sejak ibu dan ayah Jong In bercerai Jong In tak pernah membawa bekal ke
sekolah. Ia hanya akan makan bekal Soo Jung meski di sekolah Jong In termasuk
laki-laki yang di gemari para wanita dan banyak dari mereka yang selalu
membawakan makanan untuknya namun Jong In tak memakan bekal kecuali milik Soo Jung.
Soo Jung dan Jong In sejak
kecil berteman. Sejak mereka taman kanak-kanak. Banyak dari wanita di sekolah
yang membenci Soo Jung karena kedekatan mereka. Namun tak ada yang berani
manggangu Soo Jung karna ia adalah gadis pertama yang menjadi juara karate di
tingkat nasional.
“kenapa kau tak membawa
bekalmu sendiri huh ? selalu saja meminta bekalku” Soo Jung menyuapkan telur
gulung ke mulut Jong In , lalu menyuapkan untuk dirinya sendiri.
“ya Jung Soo Jung apa ada
masakan yang lebih enak dari masakan ibumu ? huh ?”
“tidak ada sih , tapi kan
aku jadi harus bawa makanan sebanyak ini dalam kotak bekalku karna ibuku selalu
menghawatirkanmu”
“waah , benarkah ?
syukurlah”
“tapi Jong In-ah sampai
kapan kau akan seperti ini eoh ? ini sudah 4 tahun lamanya kau seperti ini ,
apa kau tak tau ibumu sangat sedih karenanya”
“ah , aku kenyang aku
duluan eoh ? taruh saja kotak bekalnya di mejaku aku akan mencucinya , nanti
siang aku ke rumahmu. Dah~” Jong In
pamit dan pergi meninggalkan Soo Jung.
“tck..selalu saja seperti
itu jika membicarakan ibunya. Dasar kkamjong”
Di kelas
“Selamat pagi Jong In-iee
aku membuatkan nasi bulat untukmu, kau mau makan bersamaku ?” sapa Jin Young
pada Jong In
“tidak terima kasih. Aku
sudah sarapan” jawabnya tanpa menoleh
“bagaimana kalau untuk
makan siang ?”
“tidak. terima kasih”
“yya Kim Jong In kenapa
kau mengacuhkan Jin Young eoh ? dia sudah menyiapkannya untukmu” bentak hyuna
“aku tak memintanya” Jong
In duduk di kursinya dan menelengkupkan kepalanya
“yak ! kau mau mati huh ?”
hyuna menarik kepala Jong In dan mencengkram kerah seragam Jong In.
“issh. Benar benar
menyebalkan” gumam Jong In
“hentikan hyuna-ya aku
tidak apa-apa”
Jin Young mencoba
menghentikan hyuna
Soo Jung dan jinri
memasuki kelas bersama , dan terkejut melihat hyuna mencengkram seragam Jong In.
Jong In bukanlah tipe laki laki yang berkelahi dengan perempuan.
“ada apa ini ?” Soo Jung
mencoba melepas tangan hyuna namun sialnya satu tangan hyuna sengaja memukul hidung Soo Jung.
“aww” Soo Jung mengelus
hidungnya dan ada sedikit darah keluar dari hidungnya
“yaa!” Jong In menepis
tangan hyuna dari kerahnya hingga hyuna limbung dan jatuh
“Soo Jung-ah kau tidak
apa-apa ?” Jong In menangkup kedua pipi Soo Jung
“eoh , aku tidak apa-apa”
“issh , berhenti
menggangguku ! berhenti membuat makanan jika kalian kerepotan ! aku tak pernah
memintanya” Jong In menarik lengan Soo Jung dan membawanya keluar.
“aww. Pelan-pelan” Soo Jung
merengek
“aku heran kenapa kau bisa
jadi juara karate jika begini saja kau sudah berdarah”
“aku kan tidak siaga
karena ku pikir ia tak sekuat itu”
“bodoh! Lagipula kenapa
kau menghentikannya”
“yya apa kau gila ? mana
mungkin aku membiarkanmu diperlakukan seperti itu oleh orang lain !”
“sudahlah! Ayo ke kelas !”
Jong In menarik tangan Soo Jung
“aku tak akan membiarkanmu
disakiti oleh siapapun” gumam Jong In
“apa ? kau mengatakan
sesuatu ?”
“tidak , aku tidak
mengatakan apa-apa. Cepat nanti kita bisa di hukum”
Sejak lama Jong In
memiliki perasaan pada Soo Jung , perasaan yang tumbuh sejak mereka kecil ,
namun Jong In tidak pernah mengatakannya pada Soo Jung.
Sampai di kelas guru
merkea sudah di kelas
“kalian dari mana ?” Tanya
pak shin dong
“dari uks pa” jawab Jong
In
“apa yang kalian lakukan
pagi-pagi di uks?” Tanya shin dong sarkatis
“Soo Jung terluka pa”
jawab Jong In lagi seraya menatap sinis kearah hyuna
“benarkah Soo Jung ? apa
sekarang kau baik-baik saja ? kelihatannya Soo Jung baik-baik saja”
“iya pa aku sudah
baik-baik saja”
“kalau begitu kalian
berdiri di depan sampai jam pelajaranku selesai . Mau coba-coba menipuku yah.
Cepat keluar”
“tapi pak…” Soo Jung
memelas
“keluar!”
“isssh”
Jong In keluar kelas
diikuti Soo Jung
“ah syukurlah tidak ikut
pelajaran , sejarah membuatku mengantuk” Jong In menyandarkan tubuhnya di
tembok.
Tak disangka-sangka shin
dong menghampiri mereka. Ia menambah hukuman mereka
“apa kau bilang ? ambil
posisi ! naikan satu kaki dan pegang kedua telinga menyilang cepat”
“ahh, kau ini kkamjong
menambah masalah saja aish” Soo Jung menoyor kepala Jong In
“cepat lakukan ! Jung Soo Jung
letakkan tanganmu di telinga Jong In , dan kau juga sebaliknya Jong In”
Soo Jung pov
Gara-gara si hitam Jong In
, kami di hokum sampai jam istirahat. Ah andai saja dia tidak mengatakan
hal-hal yang bodoh. Kami hanya perlu berdiri di depan kelas dan tak perlu
berdiri dengan posisi seperti ini.
Wajahnya begitu dekat dengan
mataku , bahkan aku bisa mencium bau maskulin yang menguar dari tubuhnya.
Entahlah mengapa jantungku jadi berdebar debar jika berada di dekatnya seperti
ini. Sudah lama aku merasakannya namun aku tak pernah mengatakannya pada
siapapun. Debaran ini muncul sejak ia mengatakan hanya aku yang ia sayangi di
dunia ini dan akan menjagaku seumur hidupnya di depan makam ayahnya.
Flashback on
Hari mendung itu , membuat
suasana duka semakin terasa. Semua orang berpakaian hitam.
“ayah , kenapa kau meninggalkanku
? ayo pergi bersama ayah , jangan tinggalkan aku sendiri!” Jong In berlutut di
depan makan ayahnya
“Jong In-ahh jangan
menangis kau masih memiliki aku , eoh ? kalau kau menangis aku merasakan hatiku
sangat sakit”
“Soo Jung-ah kenapa ayahku
meninggalkanku eoh ? dia bilang dia akan selalu bersamaku , kenapa Soo Jung-ah?”
Jong In menangis dipelukan Soo Jung
“Jong In-ah. Kau masih
memiliki aku , aku tidak akan meninggalkanmu”
“ayah. Kini hanya Soo Jung
yang kumiliki di dunia ini . aku akan menjaganya seumur hidupku aku berjanji
ayah”.
Jong In pov
Jong In menarik telinga Soo
Jung .
“aahh ahh “ Soo Jung
kesakitan
“ya ! kenapa kau melamun
?”
“isssh rasakan ini” Soo Jung
menarik telingaku kencang sekali
“aah ahh cukup cukup
sakit”
“siapa suruh kau
menjewerku duluan?”
“habis kau melamun!”
“siapa yang melamun” ia
memalingkan pandangannya. Ia berbohong
“jangan bohong padaku”
Ku tangkup wajahnya.
Pipinya merona. Kenapa suasananya jadi seperti ini yah . ada suatu dorongan
yang membuatku ingin melakukan sesuatu. Wajah kami semakin dekat. Astaga .
segera ku tarik tanganku dari wajahnya. “apa yang kau lakukan Kim Jong In
bodoh” rutukku.
“siapa bilang kalian boleh
berhenti ?” pak shindong mengagetkan kami
“cepat ke lapangan ! lari
sepuluh putaran!”
“apa ?” bersamaan
“cepat atau akan ku tambah
jadi dua puluh?”
“tapi pak , Soo Jung kan
perempuan!” aku tak tega kalau harus melihatnya mengelilingi lapangan sebesar
itu.
“lalu ?”
“kurangilaah” pintaku
“baiklah Soo Jung 5 Jong
In 15 bagaimana ?”
“hah ?”
“apalagi ? cepat sana!”
“Jong In-aah kau ini bodoh
sekali sih”
“tak apa-apa. Ini akan
sulit untuk perempuan” ku elus rambutnya.
Author pov
Setelah lima putaran, Soo Jung
tetap mengikuti Jong In berlari
“yya sudah sana
istirahat!” Jong In mengusir Soo Jung
“ahh tidak adil rasanya
jika aku dianggap lemah olehmu. Aku bahkan lebih kuat darimu”
“apa ?”
“sudahlah ayo cepat kita
selesaikan . kita lomba , yang kalah harus mentraktir makan siang”
Jong In hanya tersenyum
melihat Soo Jung mendahuluinya. Dan Jong In pun mengalah pada Soo Jung.
Pulang sekolah
“Aku akan ke rumahmu
setelah ganti pakaian eoh ?”
“baiklah . ku tunggu!”
Jong In sampai di rumahnya
“selamat datang sayang”
sapa Taeyeon melihat putranya
Jong In hanya meliriknya
dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya, dilihatnya kamar LeeTaemin
kakak tirinya terbuka. Ia duduk di meja belajar dan memandangi figura diatas
mejanya itu fotonya bersama Soo Jung ketika masih kecil dan fotonya bersama Soo
Jung tahun kemarin ketika merayakan ulang tahunnya.
Dengan paksaan Soo Jung
akhirnya Jong In mau berpose sama dengan Soo Jung , Jong In tak bisa menolak
satupun permintaan Soo Jung jika Soo Jung sudah merengek.
Di sebelah foto itu ada
foto Kim woo bin. Ayah yang sangat di cintai Jong In. kembali kenangan pahit
masa lalunya seperti video yang masih sangat baru kenangan pahit itu begitu
jelas tergambar di pikirannya
Flashback on
Malam itu Kim Taeyeon keluar
rumah dengan tergesa-gesa. Ketika itu Jong In terjaga karena suara pintu yang
berdentum keras. Jong In melihat ke jendela dan mendapati ibunya berjalan
dengan seorang laki-laki, karena ia fikir itu ayahnya ia pun mengikuti mereka.
Taeyeon dan laki laki itu duduk di taman.
“sampai kapan kau akan
mempertahankan suamimu Taeyeon-ah ?” Tanya laki laki itu
“bersabarlah junho-ya, aku
belum bisa meminta cerai darinya kau tau aku memiliki satu putra”
“aku tau , lalu bagaimana
denganku ? bagaimana jika aku merindukanmu ? anakku sudah menyukaimu, dari
sekian banyak wanita hanya kau yang ia terima sebagai ibunya, kau tau karena
kau cinta pertamaku. Kau “
“aku tahu , kau juga cinta
pertamaku, aku ingin bersamamu juga junho-ya tapi bagaimana aku mengatakannya
pada woo bin ?”
“tinggalkan dia ku mohon”
lalu junho mencium Taeyeon tanpa ada penolakan. Jong
In yang berdiri tak jauh dari sana sangat terkejut melihat ibunya berciuman
dengan laki laki yang bukan ayahnya. Ketika itu Jong In sudah berusia 12 tahun.
Ia sudah mengerti akan tingkah yang dilakukan ibunya adalah sesuatu yang salah.
Ia pun berlari meninggalkan taman dengan
deraian air mata.
Tak lama kemudian
perselingkuhan Taeyeon diketahui oleh woo bin , woo bin merasa terpukul karena
kepergiannya untuk bekerja dimanfaatkan oleh taeyeon , namun awalnya woo bin memaklumi
dan memaafkan perselingkuhan Taeyeon, namun cinta Taeyeon yang membutakan
hatinya hingga ia dengan tega meninggalkan Jong In dan woo bin.
Taeyeon menghilang
bagaikan di telan bumi. Tak ada yang tahu keberadaannya sampai dua tahun
kemudian suatu hari ketika woo bin dalam
perjalanan bisnisnya ke jepang berakhir dengan malapetaka. Malam itu cuaca
sangat buruk namun woo bin memaksa terbang ke seoul karena sudah 2 hari
meninggalkan Jong In putra semata wayangnya di rumah Jung Yong Hwa ayah Soo Jung
sekaligus sahabat terdekatnya, ia tak pernah meninggalkan Jong In sendiri. Jong
In pun merasa tak kesepian meski ia sudah tak bersama ibunya
Hari itu di pemakaman woo
bin, Taeyeon datang bersama junho dan juga putranya LeeTaemin. LeeTaemin 3
tahun lebih tua dari Jong In. Taeyeon tak bisa menahan air matanya ketika
melihat Jong In menangis di pelukan Soo Jung.
Ketika ia berniat memeluk Jong
In tangannya di tepis oleh Jong In. awalnya Jong In menolak tinggal dengan
keluarga Taeyeon , namun setelah Taeyeon membeli rumah dekat dengan rumah Soo Jung
dan dengan dengan bujukan orang tua Soo Jung dan Soo Jung akhirnya Jong In mau
ikut tinggal bersama Taeyeon.
Flashback off
“tok tok” terdengar suara
ketukan
“Jong In-aah, ayo kita
makan siang bersama kakamu baru datang dari jepang, ayahmu juga sudah pulang
kerja. Kami tunggu yah” suara Taeyeon lembut
“aku tak punya kaka” gumam
Jong In
Setelah berganti pakaian
ia segera menuju dapur untuk mencuci kotak bekal makanan milik Soo Jung ,
seperti biasa ia akan mencucinya lalu mengembalikannya dengan bersih pada sang
empunya.
“kau sedang apa ? sini
cepat makan, biar ibu nanti yang mencucinya”
“biar aku saja , aku bisa
melakukannya sendiri”
Jong In tak pernah mau di
manja oleh ibunya, entah sepertinya cintanya untuk ibunya sudah mati. Ia sangat dingin pada ibunya.
“Jong In-ah , aku
membelikanmu ear phone baru, kau pasti suka” kata Taemin dengan ramahnya.
“terima kasih ka , Soo Jung
sudah memberikanku earphone baru” jawab Jong In datar
“oh begitu , baiklah kau
simpan saja, aku sudah membelikanmu. Asal kau menerimanya aku sudah senang”
Meski Taemin sering
diacuhkan oleh Jong In, ia selalu bersikap layaknya seorang kaka untuknya.
Namun mungkin karena sakit yang begitu dalam dirasakan Jong In, ia masih belum
bisa membuka hatinya untuk keluarga barunya.
“aku pergi, aku akan
mengembalikan kotak makan ini pada Soo Jung, jangan tunggu aku mungkin aku akan
makan malam di rumahnya juga” sambung Jong In ketika menyadari Taeyeon hendak
mengatakan sesuatu.
“sabar sayang, mungkin ia
masih belum bisa menerima kami” hibur
junho
“maafkan aku” Taeyeon
menundukan kepalanya.
Seperti biasa Jong In
selalu menghabiskan waktunya dengan membantu ibu Soo Jung di toko bunganya. Seo
jo Hyun adalah seorang pemilik toko bunga yang cukup besar di daerah rumahnya.
Karena itulah Soo Jung pun sangat suka dengan bunga
Seo Hyun juga dekat dengan
Taeyeon mereka lulus di universitas yang sama , meski Taeyeon adalah sunbaenya
, ia tahu hubungan Taeyeon dengan junho memang sudah terjalin sejak mereka
kuliah , hingga akhirnya junho di jodohkan dengan ibu LeeTaemin yang
kemudian meninggal ketika melahirkannya.
“kau sudah datang ? Soo Jung
mungkin sedang di kamarnya. Panggil lah bibi akan siapkan makanan untuk kalian”
Jong In tersenyum dan
langsung naik ke lantai atas menuju kamar Soo Jung. Terlihat pintu kamarnya
sedikit terbuka , meski Sudah tak asing bagi Jong In keluar masuk rumah ini
tapi ia sangat menghormati Soo Jung , ia tak pernah masuk kamar Soo Jung tanpa
izin. Ketika ia hendak mengetuk terdengar gumaman Soo Jung
Jong In pov
Bibi Seo Hyun memintaku
untuk memanggil Soo Jung makan siang , kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka,
aku dapat melihatnya yang sedang berbaring sambil mengangkat boneka beruang
coklat pemberianku.
“yya Kim Jong In, kau tau
aku tak bisa mengendalikan debaran jantungku jika kau menyentuh dan menatapku
seperti tadi , kukira kau akan merebut ciuman pertamaku ternyata tidak ,
sejenak aku berfikir kalau kau sampai melakukannya aku akan membunuhmu.
Menciumku ketika dapat hukuman. Dasar kkamjong bodoh! Tidak romantis! Aah sudah 18 tahun taapi belum pernah
berciuman hmmh, aku juga ingin merasakannya” ia memeluk boneka beruang itu
Apa aku tak salah dengar ? Soo Jung
mengharapkan aku yang mendapat ciuman pertamanya ? benarkah ? jadi dia juga
menyukaiku ? tuhaan aku sangat senang hari ini. Setelah mengendalikan diri dan
jantungku ku coba berdehem pelan untuk menetralkan suaraku. Ku ketuk pintu
kamarnya
“Soo Jung-ah ayo makan ,
aku lapar”
Ku lihat ia segera duduk
dan menyembunyikan boneka beruang itu di bawah selimutnya.
“kaa..kkau sejak kapan kau
disana huh ?” kulihat wajahnya merona
“apanya yang sejak kapan ?
sejak kau mengatakan ingin berciuman denganku” godaku
“a..apa yang kau bicarakan
? a..aku tak pernah mengatakannya. La..lagipula siapa yang mau berciuman
denganmu,huh!” ia bangkit dan menghentakkan kakinya
“benarkah ?” aku masuk dan
mendekatinya ia berdiri di depanku sekarang
“benarkah ? jadi Jung Soo Jung
tak pernah berciuman ? kau yakin ?”
Aku melangkah maju dan
secara reflek Soo Jung mundur perlahan-lahan
“a.apa yang kau bicarakan
si issh” ia memalingkan pandangannya
“apa kau lupa kejadian di
malam itu ?” ia semakin mundur hingga betisnya menabrak ranjang
“a..pa ? malam apa ?”
kulihat ia semakin merona wajahnya memerah , ia tak berani menatapku , ku
persempit jarak antara kami dan hingga ia terduduk diatas kasurnya. Kuposisikan
wajahku sejajar dengan wajahnya. Kuraih selimutnya dan kutemukan boneka beruang
pemberianku, ku letakkan bibir boneka beruang tepat di bibirnya “chup”
“kkamjong sudah merebut
ciuman Soo Jung” ku lihat wajahnya memerah ia mendorongku dan berteriak
“apa yang kau lakukan si Kim
Jong In bodoh ! sana pergi ! aku benci padamu”
Ia mendorongku keluar dari
kamarnya
“kenapa ?”
“sudah sana pergiiiii”
blamm~ ia menutup pintunya dengan keras
Author pov
Keesokan harinya
Jong In tidak mendapati Soo
Jung di taman sekolahnya, ketika ia masuk ke kelasnya Jong In mendapati Soo Jung
sedang duduk di kursi Jong In , Soo Jung memandang keluar jendela seolah
memikirkan sesuatu. Bahkan ketika Jong In sudah berdiri di sampingnya pun ia
tak menyadari keberadaan Jong In. “Soo Jung-ah” dengan sangat hati hati Jong In
menyapa Soo Jung.
“oh kau sudah datang, kau
sudah sarapan ?” Tanya Soo Jung ramah
Jong In menggeleng
“maaf kemarin aku kasar
padamu. Sebagai permintaan maafku ini aku membuat nasi bulat danging” Soo Jung
meletakkan kotak bekalnya di meja
“seharusnya aku yang minta
maaf, aku bahkan tak bisa tidur karna kau membanting pintu keras sekali, kukira
kau tak mau berteman denganku lagi L”
“aku yang berlebihan,
karena membesar besarkan masalah kecil, maafkan aku yah ?” Jong In duduk di
kursi tepat di depan Soo Jung dan menggenggam tangan Soo Jung
“tidak, hanya saja… aku
merasa takut kita akan canggung jika sampai …” Jong In menarik wajah Soo Jung
dan “Chuu~” kecupan hangat menyalurkan perasaan
Jong In selama 4 tahun terakhir , Soo Jung yang awalnya membelalakan
mata karna terkejut sejurus kemudian menutup matanya merasakan kehangatan
peraasan mereka satu sama lain, merasakan ketulusan Jong In akan perasaannya.
Terdengar derap kaki
mendekat kearah kelas , Jong In pun melepas ciumannya. Awalnya mereka tidak
saling memandang namun kemudian senyuman terukir di bibir masing-masing.
“waah Soo Jung , Jong In
kalian berangkat bersama hari ini ?” Tanya jinri yang masuk ke kelas dengan
beberapa teman sekelasnya yang lain.
“ehm..” Soo Jung tak bisa
mengeluarkan suaranya, sepertinya akibat ciuman memabukkan Jong In di pagi
hari.
“Soo Jung-ah suaramu
kenapa ?” jinri tampak hawatir
“dia sedang datang bulan!”
jawab Jong In santai
“apa ? ke..kenapa kau bisa
tahu Jong In-ah ?” Soo Jung tampak terkejut
“kau bahkan hafal kapan Soo
Jung datang bulan. Kalian memang sangat dekat kenapa tidak berkencan saja ?” Tanya jinri
“yya kkamjong bagaimana
kau tahu ?”
“bibi yang mengatakannya
padaku kemarin”
“aish ibuku memang terlalu
jujur” Soo Jung menutupi setengah wajahnya yang memerah, Jong In menarik tangan
yang menutupi wajah Soo Jung.
“kenapa ? kau malu ? lebih
malu dari yang sebelumnya ?”
“sebelumnya ? apa yang
terjadi sebelumnya Jong In-ah ?” jinri tampak antusias
“aku m..mencjijklkluikkm”
mulut Jong In langsung penuh dengan nasi buatan Soo Jung
“Soo Jung-ah kau
mengganggu saja , sebelumnya Soo Jung kenapa ?” jinri tampak tak menyerah.
Soo Jung menendang kaki Jong
In dan memasang wajah garangnya pada Jong In
“aku mencium bau kentutnya
jinri-ah” Jong In kini menyuapkan nasi bulat itu ke mulut Soo Jung
“hahaha benarkah ?”
“eoh. Baunya seperti ikan
busuk, aaaw sakit bodoh !”
Soo Jung memukul kepala Jong
In dengan tutup bekal makan yang ada di tangannya
“berhentilah bicara atau
kau akan mati ditanganku Kim Jong In”
“nee” jawab Jong In patuh
Jinri masih tertawa puas
mendapati dua temannya yang bertengkar sambil sarapan itu.
Pulang sekolah
“Soo Jung-ah , bagaimana
kalau nanti sore kita kencan ?” tawar Jong In . Soo Jung menghentikan
langkahnya. Jong In berbalik menghadapnya
“yya kenapa kau melamun ?”
“aah.. itu ehm sebentar” Soo
Jung berjongkok sambil memegangi dadanya
“kau tidak apa-apa ? apa
kau sakit? Kalau begitu kencannya kita tunda saja besok”
Jong In ikut berjongkok
dan mendekat kearah Soo Jung
“dasar bodoh ! kenapa kau
mengatakan kencan dengan begitu mudahnya ?”
“memangnya kenapa ? kau
bahkan tidak menolak ketika aku menciummu tadi pagi”
“haish” Soo Jung berdiri
dan bercacak pinggang
“kau melakukannya tanpa
persetujuanku”
“tapi kau tak menolak
bahkan kau membalasnya”
Soo Jung semakin memerah
wajahnya . ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam lalu
“bukan seperti itu, ah
baiklah aku menyukainya , karena aku memang menyukaimu kenapa ? ah memalukan,
ah sudahlah aku pergi”
Semua kata-katany keluar
dengan satu tarikan nafas panjangnya. Jong In hanya tersenyum dan menarik Soo Jung
ke pelukannya
“iya , aku tahu , aku juga
menyukaimu. Mungkin sudah sampai tahap mencintai, kau selalu bersamaku , selalu
menemaniku, perasaan ini sudah lama bersarang di hatiku, tapi aku takut akan
merusak kedekatan kita, jadi aku menahannya sekuat yang aku mampu. Aku
mencintaimu Soo Jung-ah sangat mencintaimu”
“aku juga” Jong In
melepskan pelukannya
“aku sudah mengeluarkan
kata-kata yang panjang dank au membalasnya dengan dua kata ? kau benar benar Jung
Soo Jung”
“kau bahkan mengatakan
semua yang ingin ku katakan”
“cari kata kata lain dan
jawab aku”
“ah sudahlah , kau banyak
meminta” Soo Jung hendak meninggalkan Jong In , namun tangannya ditahan oleh Jong
In , Jong In melirik ke kanan dan kiri lalu dengan kecepatan tak terduga ,
bibir Soo Jung di kecupnya.
“ayo kita pulang” Jong In
menarik tangan Soo Jung , Soo Jung tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Setelah resmi menjadi
sepasang kekasih , kedekatan mereka menjadi bahan pembicaran di sekolah. Membuat
Jin Young dan hyori geram dengan keduanya. hyuna yang memang juga memiliki perasaan pada Jong
In akhirnya menjalankan niat buruknya.
Seperti biasanya , pagi
itu Soo Jung menyiram tanaman sambil bersenandung, sekolah masih sangat sepi. jong in memperhatikannya dari jauh , tiba-tiba ada
segerombolan laki laki yang tak dikenal mendekat kearah Soo Jung , para lelaki
itu tidak menggunakan seragam sekolahnya. Jong In segera mendekat kearah
mereka.
“siapa kalian ?” gertak Jong
In yang menyembunyikan Soo Jung di belakangnya . pose protektif.
“aku ada urusan dengan
gadis itu” salah seorang yang sepertinya bos mereka menunjuk kearah Soo Jung.
“ada apa ?” suara SooJung
tidak tampak ketakutan
Lalu laki laki itu memberi
kode pada anak buahnya untuk menyerang. Soo Jung maupun Jong In bukanlah orang
yang tak melawan. Soo Jung jago karate, Jong In pun tak menyembunyikan lagi
kemampuan berkelahinya. Dua lawan lima berakhir imbang. Namun tanpa mereka
ketahui sang bos memiliki pisau , Jong In yang melihat laki-laki itu hendak
mendekati Soo Jung segera menghalau. Naas pisau itu telak menusuk perut Jong In
dua kali. Jong In limbung dan jatuh bersandar pada Soo Jung . gerombolan itu
lari meninggalkan mereka.
Dari kejauhan dua orang
berseragam itu lari meninggalkan sekolah melihat Jong In jatuh. Soo Jung
menangis sesegukan , tangannya mencoba menutup luka di perut Jong In.
“aku tidak apa-apa, jangan
menangis”
“dasar bodoh , apanya yang
tidak apa-apa huh kau berdarah sebanyak ini”
Soo Jung merobek ujung rok
seragamnya lalu dengan tangan bergetar ia mengikat mengikatkannya ke tubuh Jong
In.
“a..ah apa yang kau
lakukan ? orang bisa melihat celana dalammu kalau kau merobek rokmu seperti
itu” dengan sisa kekuatan yang ia miliki Jong In melepas blazer seragamnya dan
meletakkannta di kaki Soo Jung
“aku tidak mau orang
melihatnya, aku bahkan tak pernah melihatnya”
“aah bodoh apa yang kau
lakukan, issh jangan banyak bicara”
Soo Jung mengencangkan
kembali ikatan di perut Jong In
Beberapa siswa berdatangan
dan mengerubungi mereka
“akhirnya aku bisa bertemu
ayahku Soo Jung-ah , aku sangat merindukannya. Kau jangan menangis , aku baik
baik saja” suara Jong In semakin purau
“Kim Jong In kumohon
jangan berkata yang tidak tidak. Kumohon siapapun panggil ambulan” air mata Soo
Jung semakin deras
“aku mencintaimu Soo Jung”
Jong In menyentuh pipi Soo Jung dan menghapus air matanya.
Tak lama ambulan datang
dan Jong In langsung di bawa ke rumah sakit.
Lampu di depan ruangan
operasi belum juga mati sejak 2 jam yang lalu. Taeyeon menangis di pelukan
seohyun , Taemin masih mondar mandir di depan pintu ruangan itu, dan Yong Hwa
sedang mencoba menenangkan junho. Sedangkan Soo Jung ia masih duduk di lantai
dengan baju yang masih bersimbah darah , ia memeluk erat blazer seragam Jong In.
air mata tak henti hentinya jatuh dari matanya yang menatap kosong.
“Soo Jung-ah tukarlah
bajumu dulu”
Sudah berkali kali kata
kata itu keluar dari mulut orang orang yang berbeda. Namun tak digubris
olehnya. Pintu ruangan terbuka, semua menghampiri dokter yang keluar.
“operasinya berhasil ,
tapi ia sangat lemah , ia harus mendapat transfuse darah secepatnya karena
darah di ruang penyimpanan habis bisakah kalian mendapatkannya secepatnya ?”
tutur sang dokter
“apa golongan darahnya dok
?” Tanya Taemin
“Kim Jong In memiliki
golongan darah A”
“A ?” junho memastikan ,
ia melirik taeyeon. Mereka saling pandang. Taeyeon manganggukan kepalanya.
“ambil darahku dok!” seru
junho
“aku juga memiliki
golongan darah A dok” seru Taemin
“baiklah mari ikut saya”
Akhirnya dengan donor
darah dari junho dan Taemin. Jong In terselamatkan.
“kenapa kau tak pernah
mengatakannya Taeyeon-ah ?” junho nampak menahan amarahnya
“bagaimana aku bisa
mengatakannya , kau bahkan tak bisa melawan orang tuamu”
“jika kau hamil aku tak
mungkin bisa meninkahi orang lain begitu saja”
“maafkan aku junh-ya aku
sangat takut”
“baiklah aku mengerti”
junho menarik taeyeon ke dalam pelukannya
Suara pertengkaran
terdengar di tangga darurat
Setelah berhari-hari di
tidurkan dokter pasca operasi. Akhirnya Jong In sadarkan diri, orang yang ia
lihat pertama kalinya adala taeyeon. Taeyeon terlelap di samping ranjang Jong
In, air mata keluar begitu saja dari mata Jong In, ia mengedarkan pandangan ke
seluruh ruangan, ia melihat Taemin tertidur di pangkuan junho , ia merasakan
ada tangan hangat di sebelah kanannya, Soo Jung. Soo Jung menggenggam tangannya
erat.
Merasa ada yang bergerak Soo
Jung pun terjaga dari tidurnya. Dilihatnya Jong In sedang membuka mata dan
menatapnya, ketika hendak membangunkan taeyeon , Jong In menahan tangan Soo Jung.
Dan menggeleng perlahan. Jong In mengangkat tangannya segera di sambut oleh Soo
Jung , ia meletakkan tangan Jong In di pipinya.
“tidurlah” suara Jong In
lebih seperti bisikan lembut
Soo Jung menggeleng. Jong
In mengedipkan matanya member tanda bahwa ia juga akan tidur. Sebelum tidur Soo
Jung memberitahu Jong In bahwa junho dan Taemin lah yang mendonorkan darahnyaa
untuk Jong In. dan taeyeon tak pernah pergi dari sisi Jong In selama Jong In
tak sadarkan diri.
Pagi harinya
Betapa terkejutnya Soo Jung
ketika menyadari kini ia tertidur ranjang
Jong In. Taeyeon junho dan Taemin sedang menyiapkan sarapan di kursi,
sedangkan Jong In baru saja keluar dari kamar mandi
“kau sudah bangun ?
tidurmu pulas sekali” sapa Jong In ramah
“kemari Soo Jung-ah tadi
pagi ibu dan ayahmu mengantarkan makanan kesini tapi mereka tak bisa lama
karena urusan toko juga pekerjaan” ajak Taeyeon
“ah , maafkan aku”
“maaf untuk apa ? harusnya
kami yang berterima kasih”
“eh ?”
“berkatmu Jong In sadar
lebih awal. Lihat bahkan dia sudah bisa berjalan”
“eh ?” Soo Jung masih tak
mengerti
“a..ayah apa ayah tidak ke
kentor ?” Jong In
Semua terdiam
“ah , iya ayah akan ke kantor setelah sarapan.
Kau cepatlah sembuh nak” junho mengelus kepala Jong In
“Soo Jung-ah hari ini biar
ibuku yang menyuapiku rasanya sudah lama sekali aku tak disuapi olehnya ya bu?”
Jong In menatap Taeyeon
“baiklah , biar ibu yang
suapi”
“kalau begitu Soo Jung
suapi oppa saja eoh ?” Taemin menggoda Jong In
“apa ? kau mau mati kak ?”
Jong In mengarahkan sumpit kearah Taemin
“aku tidak mati hanya
dengan sumpit Jong In-ah”
Gelak tawa membahana di
ruangan VIP itu. Jong In sudah mengetahui semuanya. Meski awalnya ia sangat
sedih karena woo bin bukan ayah kandungnya namun akhirnya mengerti dengan
keadaan yang telah terjadi.
Sewaktu kuliah hubungan Taeyeon
dan junho sangat dekat . mereka lulus bersama sampai suatu hari junho
menghilang selama dua tahun. Ketika ia kembali dan bertemu Taeyeon ia memberi
tahu Taeyeon bahwa ia telah menghamili anak dari rekan bisnis ayahnya, ia
melakukan itu dibawah alam sadarnya dan ia harus bertanggung jawab. Dan ketika
malam itulah terjadi malam perpisahan antara keduanya . setelah tahu anak junho sudah berusia satu tahun Taeyeon yang
ketika itu tidak bisa berbuat apa apa dengan keadaan pun akhirnya
menyembunyikan kehamilannya. Sampai ia bertemu woo bin yang bersedia
menikahinya.
Namun karena ikatan cinta
antara junho dan taeyeon terlalu kuat . woo bin tak bisa lagi menahan Taeyeon dan
menceraikannya dengan syarat memberikan hak asuh Jong In pada woo bin. Woo bin
menyayangi Jong In seperti anaknya sendiri.
“ayah , terima kasih telah
mencintaiku dan ibu dengan setulus hatimu. Darimu aku belajar ketulusan. Meski
kau bukan ayah kandungku , aku akan tetap menggunakan marga Kim seumur hidupku
agar tetap memperpanjang keturunan Kim. Ayah junho akan sudah memiliki ka Taemin
marga Leeakan hidup di keturunannya kakakku. Aku mencintaimu ayah. Selamanya
kau adalah ayahku” Jong In menghapus air matanya
Soo Jung mendekat dan
memeluk Jong In dari belakang, ia meletakkan kepalanya di pundak Jong In
“ayahmu sudah tenang
disana, jangan menangis lagi eoh?”
Jong In menganngguk dan
mengeratkan ikatan tangan Soo Jung di perutnya.
Sore itu, setelah mengunJungi
makam woobin ayahnya, di bawah pancaran sinar mentari yang hampir tenggelam , Soo
Jung dan Jong In masih bermain air di pesisir pantai tangan mereka terjalin
begitu erat, Soo Jung berjalan mundur menghadap Jong In yang menatap lembut
kearahnya. Tatapan yang dipenuhi cinta yang membuncah. Soo Jung berhenti dan
menatap Jong In sendu.
“jangan pernah merasa
sendirian lagi , aku akan selalu bersamamu meski aku tak bisa bernafas , meski
suatu hari nanti jantung ini berhenti berdebar seperti ini . kau tetap disini
hanya ada dirimu. Selamanya” Soo Jung mengarahkan tangan Jong In tepat di
jantungnya.
Terulas senyum indah di
wajah Jong In , ia menarik Soo Jung ke dalam pelukannya dan mencium puncak
kepala gadisnya.
“terima kasih telah
menjadi seseorang yang membuatku tetap semangat menjalani hidupku yang sangat
sakit ini. Aku mencintaimu , aku mencintaimu dengan sepenuh jiwaku. Aku
mencintaimu”
Kisah ini di tutup dengan
kecupan hangat antara Soo Jung dan Jong In di balik senja.
*fin*